“MENGGAPAI MIMPI”
Kisah seorang anak yang berasal dari ekonomi yang pas – pasan yang mencoba dengan gigih menggapai impianya ”menjadi seorang dosen“.
Pagi itu sekitar pukul 07: 00. Amri dan Hasan tiba di sekolahan,mereka dengan segera menaruh tasnya di dalam kelas.
Kemudian mereka segera ke lapangan tengah untuk mengikuti pelajaran Olahraga, Materi pada hari ini adalah bermain sepak bola. Setelah ada istruksi dari guru olahraganya Amri dan Hasan bermain sepakbola bersama.”tiba – tiba bola yang ditendang Amri mengenai salah satu jendela dari kelasnya.sepontan guru olahraga Amri langsung memanggil keduanya dan menyidangnya di dala sebuah Ruang kecil “yang keetulan ruang itu adalah gudang” ,Namun keduanya meraa legakarena keduanya tidak di suruh mengganti kaca yang sudah Amri dan Hasan pecahkan,akan tetapi keduanya ”Amri dan Hasan” mendapatkan tugas baru, Mereka harus membeli sapu dan membersihkan gudang.
Suasana di rumah Amri
Amri sampai di depan rumah dengan wajah agak murung ,tok…. tok… tok… terdengar bunyi pintu rumah Amri . setelah ibunya membukakan pintu sesegera mungkin Amri masuk kedalam kamarnya dan mengunci kamarnya rapat – rapat.
” cuci kaki dulu Amri.” ucap ibunya
” Ia bu nanti dulu ?” Jawab Amri dengan suara agak kasar.
” kamu kenapa Nak “ucap ibunya “ dengan suara yang lembut.
“nggak ada apa –apa bu.” Jawab Amri datar.
“ Amri.” panggil ibunya.
” iya bu”, jawab Amri?”
” Sini dulu Nak,coba cerita sama ibu ada apa lagi sayank “, Ibunya merayu Amri agar keluar kamar
Amri yang hanya bisa diam mendengar kata ibunya seperti itu, tak lama kemudian Amripun keluar dari kamarnya. “Nah gitu dong “jawab ibunya.
“Ada apa nak, tadi gimana sekolahnya”, tanya ibunya.
“ nggak gimana – gimana bu, aku lagi sebel banget bu ma guru olahragaku “ jawab Amri dengan santun.
“Kenapa dengan guru olahragamu Nak “? Ibunya sambil menatap Amri.
“ bu maaf ya aku tadi mecahin kata jendela kelasku bu “. Jawab Amri dengan wajah ketakutan “Apa”? tanya ibunya dengan raut muka yang tegang
“Ia bu aku mecahin kaca jendela kelasku “ jawab Amri dengan wajah yang sangat cemas dan ketakutan.
“ Sini – sini “ jawab ibunya sambil memeluk Amri ,Bu Amri minta maaf ya bu Amri nggak sengaja bu mecahin kaca jendelanya,Amri tadi bermain dengan Hasan bu Tiba – tiba bola yang aku tendang mengarah pas di kaca jendela kelasku bu. “ Ya sudahlah Nak ibu nggak papa kok “ jawab ibunya dengan nada rendah.Terus gimana Nak apa perlu besok ibu ke sekolahanmu nak? “nggak usah bu “Amri menjawab.Tadi udah aku selesaikan semua Bu,aku dan Hasan disuruh ganti dengan membersihkan dan membereskan gudang belakang sekolah Bu.
“Nak lain kali yang hati – hati Ya “ ibunya menasehati Amri.
“ Ia bu maafin aku ya “ Amri sambil menangis.
“Udah masa calon pak dosen kok cengeng” kata ibunya dengan memberi semangat
“Aku takut ibu marah “ Amri menjawab.
“ Kalau kamu jujur Ibu gak bakalan Marah nak, Udah di usap air matanya Terus cuci tangan dan makan, Ibu sudah masak Masakan kesukaanmu”.ibunya sambil menyiapkan makanan di atas meja.
“Ia bu “. Amri menjawab dan segera mencuci tangan.
Dua bulan kemudian
Esok yang cerah Amri dan Hasan berangkat pagi-pagi agar mereka bisa menyontek hasil pekerjaan rumah dari teman dekatnya yang bernama “Eni “.
Lima menit “Amri dan Hasan” menunggu akhirnya “Eni” datang, dengan sigap Amri menghampiri Eni.
Suasana sepi Ruang kelas 6 di SD tempatnya tidak jauh dari rumah Amri, Amri dan Eni adalah Siswa kelas 6 Sekolah Dasar. Amri dan Eni di beri tugas oleh “pak Hadi” yang kebetulan “pak Hadi” adalah Guru MATEMATIKA dan sekaligus wali kelasnya Amri dan Eni.
Waktu menunjukkan pukul 09 : 00, pelajaran pak Hadipun dimulai.”pak Hadi” masuk ruang kelas dan memberi salam kepada siswanya. Di belakang Amri mengucapkan kata – kata “Ya allah semoga saya tidak di suruh maju”.
Setelah semua murid membaca Do’a “pak Hadi” meminta para murid mengumpulkan tugas –tugasnya di atas Meja Guru.”Bismillah semoga aku nggak di suruh maju”, ucap Amri dalam hatinya.
Setelah semua tugas terkumpul “pak Hadi” memeriksa tugas satu per satu, tanpa ada rencana “pak Hadi” meminta Amri dan Eni maju kedepan buat mengerjakan tugas mereka di depan.
Setelah mereka selesai mengerjakan tugasnya di papan tulis Amri dan Eni di suruh duduk kembali, alangkah kagetnya “pak Hadi” setelah mengoreksi hasil pekerjaan Amri dan Eni di papan tulis. pekerjaan rumah Amri dan Eni sama pesis tidak ada satu angkapun yang berbeda, dengan sigap “pak Hadi” memanggil Amri dan Eni dan menghukumnya di depan kelas.
Siang harinya Jam istirahat kedua
Amri dan Hasan pergi ke kantin mereka berdua bercakap – cakap tentang betapa kerasnya hati “pak Hadi” selaku wali kelasnya,”pak Hadi” selalu tegas dalam mengambil semua keputusan.
Tidak lama kemudian bel Masukpun berbunyi Tet.....Tet... Amri dan Hasan bergegas masuk kedalam kelas.
Pelajaran agamapun dimulai,”pak Joko” selaku guru Agamanya mengajarkan tentang kisah –kisah para Nabi dalam menggapai keberhasilanya.
Dua jam berlalu Waktu telah menunjukkan pukul 12 : 30 WIB dan akhirnya pelajaran telah selesai,Amri dan Hasan segera pulang,Dirumah Amri menyesali semua perbuatan – perbuatanya selama ini,berkat cerita dari “Pak Joko” Amri bertekat untuk memperbaiki semuanya.
Dua hari kemudian
Amri kembali berangkat ke sekolah,Namun Amri meunjukkan wajah yang kurang semangat,dengan wajah yang agak kusut.
Setelah sampai di kelas Amri segera menuju dan mengetuk pintu ruang Guru,
“Bu pak Hadi ada” ? tanya Amri ke salah satu Guru yang ada di ruang guru.
“Pak Hadi ada di belakang” jawab dari guru tersebut
Dengan wajah tergesa – gesa Amripun menuju ke belakang menghampiri Pak Hadi dengan suara agak tersendak dan sedikit ketakutan Amripun mengucapkan permohonan maaf kepada Pak Hadi,Pak Hadipun menasehati Amri agar mau belajar dengan sungguh – sungguh kalau ingin menggapai semua impian – impianya dan merubah semua sifat buruk yang ada pada dirinya,karena Amri sudah kelas 6 dia sudah dekat Ujian nasional.
Satu tahun berlalu
Amri yang sudah duduk di bangku SLTA faforit di surabaya,Amri sekolah di surabaya karena ikut pindah orang tuanya yang di pindah dari tanah kelahiranya menuju surabaya untuk merubah nasib dengan bekerja sebagai seorang penjual “NASI BEBEK”.
Di surabaya kehidupan Amri agak sedikit berubah,keadaan ekonomi keluarganya mulai meningkat Amri dan keluarga akhirnya memutuskan untuk menetap Di surabaya.
Setiap Pagi sampai siang Amri bersekolah, di lingkungan sekolah Amri dikenal anak yang pandai dan rajin, semus gurunya menyuksi Amri.hingga suatu ketika ada pembagian hasil raport yang kebetulan Amri masuk peringkat Pertama satu sekolahan.
Amri segera memberi tahu Ke Pak Hadi.”Pak Hadi”pun bangga dengan perubahan Amri, pak Hadi selalu memberi semangat kepada Amri untuk tetap berusaha menggapai mimpi – mimpinya.pak Hadi yang dulu di benci Amri sekarang laksana orang tuanya Amri, apapun masalah yang selalu di hadapi Amri, Amri selalu berkonsultasi dengan Pak Hadi.
Enam tahun kemudian
Amri sekarang sudah duduk di semester 2 pada UNIVERSITAS di surabaya.Amri sangat gembira memiliki orang tua yang menyayanginya dan mampu merubah kehidupanya, semangat Amri semakin membara berkat Dukungan dari wali kelasnya waktu SD yaitu “Pak Hadi”.yang dengan gigih melatih, mengarahkan dan membimbing Amri sampai menjadi baik ,hingga Amri masuk perguruan tinggi.
Empat tahun berlalu
Amri sekarang sudah duduk di semester 8,Amri bingung ingin mengajukan judul skripsi karena jurusanya adalah seorang Guru, meskipun hanya lewat telephone Amri mencoba untuk bertanya kepada Pak Hadi tentang judul Skripsinya.
Setelah mendapat judul Skripsi dari Pak Hadi kini tiba waktunya Amri menghadap dosen pembimbing skripsinya.ternyata tanpa ada komentar apapun bu dosen langsung “Acc”judul skripsi Amri.
Dua bulan kemudian tiba saatnya Amri mempertahankan skripsinya di depan sidang, wajah yang agak kusut dan kalut,namun semangat yang membara memberikan konstribusi yang luar biasa.
Dua jam sidang akhirnya Amri berhasil menyelesaikan presentasinya,kini tiba saatnya para dosen penguji memberikan pertanyaan – pertanyaaan ke pada Amri, namun setelah di buka sesi pertanyaan para dosen diam dan merenung.
Amri bingung dan hatinya di hantui ketakutan,Amri takut ujianya ini gagal karena tidak ada satu dosenpun yang mau menanggapinya.
“Amri you prima facie, you are great amri great “ kata salah satu dosen.
“Apa saya yang utama saya yang hebat, jangan bercanda Bu”? jawab Amri.
“Anda mendapat nilai good (Bagus)” jawab dosen penguji.
Amri segera membagikan kebahagiaan ini ke Pak Hadi,”pak Hadi”pun bangga mempunyai siswa yang sangat pantang menyerah dan mau berusaha untuk kesuksesanya.
Beberapa bulan kemudian
Amri di datangi oleh salah seorang dosen dari universitas tempatnya berkuliah, dosen itu menghantarkan sebuah surat.
Dengan hati – hati Amri membuka amplop tersebut dan........... kejutan yang tidak di sangka Amri di minta untuk menjadi Dosen di salah satu Fakultas di Universitas tersebut,dengan tanpa pikir panjang Amri menerima tawaran tersebut.
THE END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar