Kamis, 03 Maret 2011

”Terbentuknya sebuah hati”


Cerita cinta yang membuka mata hati kita
”Terbentuknya sebuah hati”

Dalam lorong lorong kelas yang sepi. Adinda nampak bingung mencari di mana kelas barunya berada.
Ya, adinda adalah salah satu siswa baru yang di pindah dari sekolahnya yang berada di desa karena banyak prestasi yang di miliki oleh adinda. Adinda adalah gadis cantik yang baru saja merayakan ulang tahunnya dengan berlinang air mata. Ulang tahun yang seharusnya menjadi ulang tahun yang sangat menggembrirakan buat adinda rasakan. Ulang tahun yang seharusnya menjadi sweet seventeen buat anak seumuran adinda, ulang tahun yang hanya akan di rayakan setahun sekali justru menjadi bsebuah bencana yang besar buat adinda dan kelurgnya.
Kring…. Kring… kring… terdengar bunyi telpon rumah adinda.
“ hallo, dengan kelurga pruyoga ada yang bias di Bantu?” Sapa adinda ramah.
“ benar ini dengan keluarga ibu hartari?” Terdengar seorang bapak menanyakan kepada adinda.
Adinda yang kaget mendengar bahwa mnama ibunya di sebut. langsung pnik tidak karuan.
“ maaf dari mana anda tahu nama ibu saya.”
“kalu boleh tahu saya berbicara dengan siapa?” Tanya orang tersebut kepada adinda.
“ saya adinda anak dari ibu hastari!” jawab adinda.
“ kalau begitu kebetulan, saya adalah sopi taksi yang membawa ibu anda ke rumah sakit. Ibu anda mengalami kecelakaan. Dan saya menemukan tas ibu dan dan segera menghubungi no telepon yang ada di dalam kontak hpnya.”
Bagaikan petir yang hinggap di dalam tubuh adinda. Semua tenaga dan juga sem,angat yang adinda punya seakan akan hilang. Rasa bahagia yang seemenjak tadi menghinggapi adinda pun seakan akan tak mau lagi menemani adinda di sini.
“ kalau begitu di mana ibu saya sekarang.” Tanya adinda gugup. “ ibu anda sekarang di rawat di rumeh sakit CEMPAKA di Jakarta.” Sahut penelpon tersebut.
“ baik saya akan segera kesana. Anda jangan kmana mana.”
“Adinda mau kemana kamu!” Tanya ayah adinda.
“Ibu kecelakaan yah, adinda mau ke rumah sakit sekarang.”
“Kalau begitu ayah ikut kita berangkat bersama.” Ajak ayah adinda.
“tama, kamu disini urusi semua tamu tamu yang sudah dating. Setelah itu kamu menyusul kami di rumah sakit.” Perintah ayah adinda kepada tama. Teman adinda sejak kecil yang selalu menemani adinda kemanapun adinda pergi.

Sesegera mungkin adinda bersama ayahnya menuju ke rumah sakiyt di mana tempat ibu     nya di rawat. Adinda yang semenjak awal sangatlah kaget mendengar kabar tersebut tanpa berpikir panjang lagi langsung ber lari menuju ke UGD.
“ maaf, apakah anda adalah keluarga ibu hstari?” Tanya seorang laki laki yang ternyata adalah orang yang menolong ibu adinda tersebut.
“ benar saya adinda. Dimana ibu saya? Saya harus bertemu dengan ibu saya.” Desak adinda.
“ ibu anda sedang di tangani oleh dokter.”
Tak berapa lama kemudian nampak seorang dokter keluar dari dalam ruang UGD.
“ bagaiman keadaan istri saya dokter?. Tanya ayah adinda.
“ ibu saya nggak papa kan dok?”
Namun sang dokter tersebut hanyalah bisa diam.
“ dokter ayo bilang kalau ibu saya baik baik saja dokter.”
“ kami mohon maaf bapak dan juga adik. Ibu anda terlalu banyak mengeluarkan darah. Kami sudah berusaha sebisa mungkin tapi ternyata allah punya rencana lain untuk ibu anda.” Ucap sang dokter.
“ itu gak mungkin dokter,ibu saya psti bisa di selamtkan. Ibu saya gak mungkin meninggal kan dok. Bilang kalau dokter bohong dengan saya.”
“ itu memeng benar dek! Ibu anda tidak dapat terselamatkaan.” Tegas sang dokter.
Adinda pun langsung berlari menuju ke dalam rungan tersebut.
“ ibu……….. bangun bu! Ibu sudah janji denan adinda. Ibu akan menemani adinda di saat ulang tahun adinda yang ke 17. kenapa ibu bohong sama adinda. Lihat bu adinda memakai gaun pemberian ibu buat adinda.”
Namun tak pernah ada tanggapan dri ibu adinda. Bahkan pelukan yang adinda berikan pun ibunya sama sekali tidak meresponnya.
“ adinda sudah.”
“ tapi ibu msih hidup yah”
“ kamu harus sabar sayang.”
“ gak yah lihat ibu akan bangun dan mngucapin selamat ulang tahun buat adinda.”
“ ibu sudah tidak ada adinda?”
“ kenapa ayah sama dengan dokter itu.”
Ayah adinda pun tidak tega melihat keadaan adinda yan seperti ini.
Sesegera mungkin ayh adinda memeluk adinda. Menenangkan hati anak semata wayangnya yang sedang di landa gonjangan hati yang sangat hebat.
“ bilang sama adinda yah kalau ibu akan bangun dan akan datng buat kita.”
“ adinda sayang ka sama ibu.”
“ dainda sayang banget yah sama ibu.”
“ kalau adinda sayng sama ibu adinda harus khlaska ibu buat tetap tenang berada di sisi allah. Ayah tau adinda sangat berat untuk melepaskan ibu. Tapi ibu jiga akan merasa sedih kalau terus terusan melihat adinda seperti ini.”
“ tapi ibu sudah janji dengan adinda akan menemani adinda”
“ ayah tau adinda. Allah menciptakan sesuatu hal yang baru dengan kemudian menggantikan yang lama denagn hal baru tersebut. Setiap adanya pertemuan pastinya juga akan ada sebuah perpisahan. Tidak tidak boleh terus terusan bersedih. Ingat adinda pernah berjanji dengan ibu bahwa adinda akan selalu kuat menghadapi egala masalah yang akan adinda hadapi. Nah sekarang adalah saatnya adinda membuktikan janji tersebut. Adinda harus teteap kut menghadapinya.”
Namun ternyata adinda yang sangat terpukul dengan adanya kabar bahwa ibunya telah meninggal tak kuat menahan kesedihannya. Dinda pun akhirnya jatuh pingsan.

Setelh ibu adinda selesai di makamkan, adinda masih belum ingi meranjak pergidari maakm ibunya tersebut. Adinda masih terlihat sangat bersedih, bakan mata adinda seoertinya tak kuasa unutk tetap membuka matanya. Tma yang sejak kecil selalu menemani adinda jug nampak meraskan apa yang di rasakan oleh adinda saat ini. Bahkan tama juga telah menganggap bahwa ibu hastari adalah ibunya. Hati tama sangat sakit melihat keadaan adinda yang sekarang. Melihat hati orang yang sangat di cintainya serkarang sedang terluka hebat akibat kepergein ibunya. Sudah hamper 3 than belakangan ini tama merasakan hal aneh dalam hatinya. Dia merasakan bahwa dia harus tetap menjaga adinda apapun yang terjadi. Nmaun ternyata tama tak pernah mau untuk mengungkapkan apa yang sedang dia rasrkan sekarang kepada adinda. Dia tak mau merusak persahabatan yang telah lama dia jalin bersama adinda.

Bahkan tama pun mendukung saat adinda menceritakan bahwa adinda telah mempunyai pacar baru. Dan di saat adinda telah di sakiti oleh pacarnya tersebut tama lah yang selalu menemani adinda. Entah apa yang sedang tama rasakan sekarang, tama nears bahwa saat ini dia telah kehilangan setengah dari hatinya melihat adinda seperti sekarang. Ingin rasanya tama memeluk adinda. Menenangkan hati adinda. Menjadi sinar yang tetap akn selalu menemani adinda. Menggantikan kasih sayang ibu adinda. Menjadi bintang penerang bagi adinda. Tapi tama sadar saat ini adinda tak akan membutuhkan kata kata cinta dari lelaki manaoun. Karna dulu semenjak adinda di khianati oleh zaki pacarnya dulu, dinda pernah bilang ke tama bahwa adinda saat ini tak ingin da lelaki yang mengisi hatinya. Menyita semua wktu waktunya. Dan yang lebih penting lagi adinda tak ingin kejdian yang telah di alami bersama zaki terulang lagi. Bagi adinda semua lelaki sama. Mendekati wnita hanya untuk mendapatkan kepuasan belaka. Dan setelah mereka mendapatkannya, dia akan pergi meninggalkan kita. Tama pengen banget hilangin pernyataan tentang harapan buruk yang ia ciptakan buat cowok. Menghapus bahwa gak semua cowok itu sama seperti yang adinda bilang untuk zaki. Tama adalah lelaki yang baik bahkan jika kita mau dan mengenal tama kita akan mengetahui bagaimana sifat sifat yang di miliki oleh tama. Tama dalah tipekel cowo yang gak pernah suka mempermainkan hati wanit. Karna tama sadar bahwa tama juga terlahir dari rahim seorang wanita.
“ din………….. loe gak pa pa kan!”
“ gue masih pengen di sini tam.”
“ tapi loe harus pulang din……”
“ tama loe tu gak ngertiin perasaan gue ya.”
” gue ngerti din loe tu sayang sama nyokap loe tapi loe gak boleh kayak gini terus. Nyokap loe pastinya juga bakalan sedih liat loe kayak gini. Loe harus kuat, loe harus bisa ikhlasin nyokap loe ergi dengan tenang ke sana.’
” tinggalin gue sendiri di sini tama. Gue pengin nemenin nyokap gue di sini. Kasian nyokap gue pasti sendirian di sini. ”
” gak din gue bakalan temanin loe sampe loe mau pulang bareng gue.”
” terserah loe tam.”

 2 jam tama dan juga adinda berada dalam pemakaman ibu adinda, pemakaman yang hanya terdengar oleh isak tangis adinda justru membuat hati tama semakin sakit. Tanpa tama duga tiba tiba adinda memeluk tama. Air mata adinda yang masih terasa hangat mengalir di punggung tama membuat tama juga meneteskan air matanya. Namun sesegera mungkin tama menghapus air matanya. Diapun kembali memeluk adinda. Sungguh tama merasa bersalah dengan adinda, di saat adinda merasakan kesedihan yang sanagt mendalam justru tama tersenyum membalas pelukan adinda. Cukup lama adinda memeluk tama, namun sekarang isak tangis tak lagi terdengar oleh tama. Bahkan tiba tiba tubuh adinda pun berubah menjadi sangat lemas.

Suasana di kamar adinda.

Adinda dengan kepala yang terasa sangat mencoba untuk membangunkan tubuhnya. Namun sesegera mungkin tama melarang adinda untuk bangun.
” minum dulu din.”
” gue di mana tam?” tanya adinda yang nampaknya masih bingung.
” loe di kamar loe din, tadi di pemakaman loe pingsan. Dan gue bopong loe sampe kerumah.” Jawab tama datar.
“ tam.” Adinda yang bingung harus berkata apa akhirnya hanya bias dan kuat untuk memenggil nama tama.
” iya din, loe butuh apa?”
” gue butuh loe di sini buat temeni gue, please tam gue mohon sama loe jangan pernah loe tinggalin gue.”
Tama yang hanya bisa diam mendengar adinda berkata seperti itu, bahkan tanpa ia sadari ia juga dengan tulus membalas pelukan adinda. Yah........... suasana seperti inilah yang selama ini di nantikan oleh tama. Suasana yang selama ini hanya bisa ia bayangkan dalam mimpinya belaka. Suasana di mana ia bisa dengan tulus memeluk adinda, orang yang selama ini sangat ia cintai. Seorang gadis yang rupanya telah berhasil merebut hati tama. Tama membiarkan adinda agar tetap berada dalam pelukannya. Membiarkan sampai adinda merasa tenang, membiarkan sampai saatnya nanti ia berani mengatakan bahwa terlalu lama ia menunggu saat saat seperti ini.
Dalam hati tama hanya bisa berkata bahwa apapun yang akan terjadi dengan adinda dan bagaimanapun keadaan adinda sekarang, rasa cinta dan juga sayang di miliki oleh tama tidak  akan pernah tergantikan dengan apapun.

Perlahan lahan, adinda menyadari bahwa semenjak dari tadi dia telah memeluk tama. Adinda pun segera mambanting tubuhnya dan menjauhkan tangannya dari tubuh tama. Adinda pun memeinta maaf kepada tama atas apa yang telah dia lakukan, namun tama yang menyadari bahwa saat ini hal yang di butuhkan oleh adinda adalah sebuah ketenangan. Ketenangan yang selama ini hanya ibu adinda yang bisa memberikannya. Tama pun hanya dengan tersenyum menanggapi kata permintaan maaf dari adinda hanya dengan sebuah senyuman. Entah dengan angin apa, senyuman yang di berikan oleh tama perlahan lahan dapat mengobati sedikit rasa sakit hatinya karena kahilangan orang yang selama ini dia sayangi. Kehilanagn seorang ibu menurut adinda adlah sama halnya dengan kehilangan sebuah sinar yang sangatlah di butuhkan oleh smua makhluk hidup.

Adindapun dengan tenang meminta tama untuk meninggalkannya di dalam kamarnya. Karena adinda juga sadar semenjak adinda mendengar kabar bahwa ibunya telah meninggal, tama selalu setia menemininya sampai sekarang. Tama pun juga menuruti apa yang di katakan oleh adinda, dan dia juga berjanji akan kembali lagi nanti malam untuk membantu memepersiapkan acara pengajian untuk almarhumah ibunya.

Dalam kesunyian yang adinda rasakan sekarang, adinda pun kembali mengingat apa yang telah dia lakukan kepada tama semanjak tadi. Adinda pun juga tidak memungkiri bahwa ia juga merasa tenang berada dalam pelukan tama tadi. Adinda bingung dengan apa yang dia rasakan. Ada perasaan aneh yang begitu saja muncul dalam hati adinda.

2 bulan kemudian

2 bulan telah berlalu. Semenjak ibu adinda meninggal dunia, adinda pun sedikitberubah menjadi anak yang agak pendiam. Bahkan dulu dinda yang selalu terlihat ceria dari teman temannya berubah menjadi adinda yang lebih diam dari anak yang terkenal sangat pendiam. Prestasi adinda pun juga menurun. Tama yang merasa telah kehilangan permata hatinya hanya bisa menahannya denga senyuman tiap kali adinda menghampirinya.

” din. Ntar malem ikut gue jalan jalan ya.!” ajak tama sewaktu mereka berngkat ke sekolah bersama sama.
” mau kemana tam.”   tanya adinda yang rupanya heran melihat tama yang tidak biasa biasanya mangajaknya.
” gue mau nunjukkin tempat yang sangat berarti banget buat gue kepada loe.”
” kenapa mesti gue sich tam.”
” please din. Buat kali ini loe mau nurutin ap yang gue minta.”
” ok ntar malem gue tunggu loe di rumah gue.”
” gue jemput loe jam 7 ya din.”
Adinda yang tidak lagi menjawab pertanyaan tama, bahkan untuk menerima tawaran tama ia hanya bisa menganggukkan kepalanya.

Jam 7 tepat di rumah adinda.

 Adinda yang rupanya telah menunggu kedatangan  tama  hanya melemparkan sekilas senyumnya untuk tama. Sesegera ungkin motor yang di kendarai tama maju dan melesat melewati dinginnya angin malam kota jakarta. Adinda yang sedari tadi hanya diam menunjukkan bahwa ia masih saja bingung. Pertanyaan yang tak pernah di jawab oleh tama semakin membuat adinda bingung. Rasa bingung yang adinda rasakan kemudian berubah setelah motor yna di kendarai oleh tama berhenti di sebuah tempat.


Sebuah tempat ynag mungkin jarang sekali orang mau untuk pergi ke sini. Karna di tempat ini kita


hanya bisa melihat pepohonan yang tumbuh, tempat yang sangat sepi. Tempat yang menggambarkan sama seperti gambaran hatinya yang sangat sunyi. Adinda pun merasa sangat yakin bahwa tempat ini jarang di jamah oleh manusia.

” tam, mau ngapain sich di sini.”
” ntar loe juga tahu sendiri din. Sekarang pejamin mata kamu.”
Adinda menuruti apa yang di katakan oleh tama. Perlahan lahan ia merasakan bahwa tangan tama telah menggenggam tangannya. Tama pun dengan lembut menuntun adinda. Manuju sebuah tempat yang tama sendiri berjanji bahwa hanya orang orang specialnya lah yang akan di ajaknya menuju tempat ini. Tempat yang selama ini menjadi teman curhat tama untuk mencurahkan semua perasaan tama. Tempat favorit tama, tempat yang sangat indah bagi tama.
Tama pun menyuruh adinda untuk membuka matanya. Dengan perlahan adinda mulai membuka matanya. Betapa kagetnya adinda melihat apa yang sekarang berada di depan matanya. Melihat bahwa ia telah berada di tempat yang sangat indah. Begitu banyak bintang yang dapat di lihatnya di sini.

                                                           
           

2 komentar: